Bugisan Menyala: Harmoni Alam, Budaya, Sejarah, dan Ekonomi Kreatif di Desa Wisata


Gambar Balai Desa Bugisan. Sumber: Anita Dwi Oktavianti (Dokumen Pribadi)


Suasana pagi yang cerah dan langit pun tampak indah. Matahari tampak malu dan hanya mengintip dari peraduannya. Lagu alam mulai beradu, desiran angin yang menggelitik pepohonan membuatnya terbangun dari tidur lelapnya, dan kemudian menggoyangkan ranting dan dedaunannya.


Harmoni alam, budaya, sejarah dan ekonomi kreatif menjadikan Bugisan layak untuk menyandang gelar sebagai desa wisata. Alam mempesona yang bersanding dengan sejarah dan warisan budaya serta kreativitas perekonomian warganya, nampak bersatu dalam keseimbangan, yang membentuk harmoni indahnya kehidupan. 


Alam menyapa dari hamparan sawah yang terbentang menghijau dan udara yang segar dari rindangnya pepohonan telah mengundang para pesepeda, penduduk, dan wisatawan untuk menikmati pagi yang indah. Keramahan dan senyum penduduk lokal menunjukkan budaya dengan kearifan lokal bangsa Indonesia. Keramahan masyarakat Indonesia telah diakui dunia internasional dan membuat mereka nyaman untuk datang ke Indonesia. 


Candi-candi yang berdiri tegak menjadi saksi jejak sejarah di masa lampau. Bangunan dengan stupa yang berdiri megah di Desa Bugisan menjadi bukti perjalanan panjang peradaban dari masa lalu. Perekonomian mulai menggeliat, UMKM mulai bertumbuh, dan masyarakat bisa menikmati kehidupan yang lebih baik.



Potret Desa Bugisan di Masa Lalu

Desa Bugisan terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Desa ini dihuni oleh 3500 jiwa, yang tersebar dalam 24 RT, 8 RW. Kades Heru menjelaskan tentang asal usul nama Bugisan, yang berasal dari kata “Bugis”. Konon, ada seorang prajurit suku Bugis dari Sulawesi yang meninggal dan dimakamkan di desa sehingga desanya terkenal dengan nama “Bugisan”.


Letak Desa Bugisan ini, berada di utara Candi Prambanan karena pagar utara bagian Candi Prambanan masih termasuk area Desa Bugisan. Saat perluasan candi, satu dusun warga Desa Bugisan terkena dampak penggusuran untuk perluasan taman Candi Prambanan. 




Gambar Candi Plaosan. Sumber: Anita Dwi Oktavianti (Dokumen Pribadi).


Desa Bugisan merupakan daerah penyangga candi, yaitu terletak diantara Candi Prambanan dan Candi Plaosan atau dinamakan pula Candi Kembar. Karena letak geografisnya ini, Bugisan berbatasan langsung dengan provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 


Sebelum menjadi desa wisata, Bugisan sama seperti desa-desa pada umumnya di daerah Jawa, yang mempunyai beragam permasalahan. Permasalahan ini seperti:

  • Rendahnya kemandirian ekonomi desa
  • Permasalahan pengelolaan sampah 
  • Terbatasnya berbagai infrastruktur 
  • Kurangnya perencanaan pengembangan potensi lokal 


Berbagai permasalahan yang ada, tidak menyurutkan langkah nyata untuk mengadakan perbaikan. Melalui visioner kepala desa yang terpilih, Heru Nugroho, yang mempunyai program desa wisata, maka dimulailah perubahan Desa Bugisan dengan wajah barunya.


Dengan semangat menuju hidup yang lebih baik dan sejahtera, kepala desa bersama jajaran perangkat desa mengajak masyarakat dan pihak terkait untuk berbenah. Inilah kekuatan bersama menuju masa depan yang gemilang. 


Sebuah pengingat bagi kita semua dari bapak pendiri Bangsa Indonesia, presiden pertama Indonesia, Presiden Soekarno :

“Aku tinggalkan kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.” 



Bank Sampah sebagai Tonggak Berdirinya Desa Wisata Bugisan


Ilustrasi gambar pemilahan sampah

Sumber: Canva / @Julia M Cameron 


Pada tahun 2013, Kepala Desa Heru Nugroho, ketika pertama kali menjabat sebagai kades, mempunyai program untuk menjadikan Bugisan sebagai desa wisata. Namun, keinginan ini terganjal oleh permasalahan sampah.


Melansir dari media Solo Pos, pada tanggal 25 Juni 2022, saat berbincang dengan Kades Heru di Paseban Candi Kembar, Desa Bugisan, beliau menjelaskan bahwa keinginan untuk menjadikan Bugisan sebagai desa wisata telah disetujui oleh Dinas Pariwisata. Akan tetapi, syaratnya harus memenuhi sapta pesona yang di dalamnya ada point kebersihan. 


Saat itu di pinggiran jalan Desa Bugisan isinya penuh dengan sampah plastik. Sehingga permasalahan sampah ini menjadi faktor penunda dari terwujudnya keinginan tersebut.


Tidak berdiam diri, Kades Heru mengeluhkan permasalahan sampah tersebut ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Klaten. Gayung bersambut, DLH Klaten akhirnya menawarkan bantuan gedung bank sampah beserta alat pencacah sampah, akan tetapi ada syarat yang harus dipenuhi yaitu pengelolaan bank sampah harus bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.


Pemerintah Desa (Pemdes) Bugisan menyetujuinya, kemudian menyiapkan lahan seluas 500 meter persegi, yang berdiri di lahan kas desa, untuk dibangun bank sampah. Awal beroperasi, Pemdes bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) membuat Peraturan Desa (Perdes) terkait larangan membuang sampah sembarangan, yang diatur dengan denda Rp 100.000,00.  


Sayang sekali, ternyata aturan ini tidak efektif, sehingga nilai sanksi dinaikkan menjadi Rp 200.000,00 dan dibentuklah satgas sampah desa. Satgas sampah ini berasal dari warga Bugisan. Semua warga bisa menjadi satgas sampah karena diharapkan warga bisa melapor jika ada pelaku pembuangan sampah sembarangan. 


Pemdes membentuk sayembara, dari Rp 200.000,00 nilai sanksi ini, yang Rp 100.000,00 untuk desa dan Rp 100.000,00 bagi yang berhasil menangkap basah pelaku pembuangan sampah sembarangan. Dan ternyata, sayembara ini berhasil dan memberikan efek jera.


Para pelaku yang tertangkap basah, saat aksinya ketahuan, mereka akan buru-buru mengambil sampah yang telah dibuang, daripada digelandang ke balai desa dan membayar dendanya. 


Kades Heru juga menjelaskan bagaimana pengelolaan bank sampah di Desa Bugisan. Bank sampah yang telah dibangun pada tahun 2015 dinilai terbaik oleh DLH Klaten. Hingga pada tahun 2021, mendapatkan bantuan pembangunan unit Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) di lahan 500 meter persegi, dilengkapi juga dengan alat pengayak dan pencacah.


Pengelolaan bank sampah dan TPS3R digabungkan untuk memudahkan penanganannya. Pengelolaan sampah ini akhirnya menghasilkan cuan. Di TPS3R, sampah dipilah, dan yang memiliki nilai ekonomis kemudian dijual. Sedangkan sampah organik diolah menjadi pupuk kompos. 


Penghasilan dari pengolahan sampah ini, dalam sebulan bisa menyumbang Rp 500.000,00 ke Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kini, pihak bank sampah dari pengolahan sampah ini sudah bisa digunakan untuk menggaji sembilan tenaga kerja senilai gaji UMR.


Saat ini, nasabah bank sampah diikuti oleh 500 rumah tangga, yang tersebar dalam 24 RT. Cara pemilahan sampah telah diajarkan kepada masyarakat dan dari rumah diharapkan sudah dipilah. Dampak nyata bank sampah ini bisa dirasakan oleh seluruh masyarakat desa. Sampah yang berserakan ke alur sungai pun juga sudah berkurang. 


Bugisan pun mendapatkan apresiasi dari Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, dengan anugerah Apresiasi Desa Mandiri Sampah. Bugisan tampil makin percaya diri, dengan wajah baru yang makin cantik alami. Alam yang indah dan lingkungan yang bersih dari sampah karena berhasil mengolah sampah dengan baik, ibaratkan wajah seorang wanita yang cantik natural dan glowing bersinar.


Bank sampah Bugisan juga mengadakan edukasi kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung, yang dimasukkan dalam bentuk paket wisata. Bugisan pun semakin menancapkan akarnya, tampil bak ratu kecantikan yang cantik mempesona sekaligus mampu menjadi contoh yang baik dalam hal edukasi, sejarah, budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup.


Bugisan yang menyala, desa wisata sekaligus desa yang sukses mengelola sampah desanya. Inilah bukti sinergi antara potensi alam, sejarah, budaya, edukasi, lingkungan, dan ekonomi kreatif yang semakin berkembang.



Transformasi Desa Wisata Bugisan 


Gambar Desa Bugisan. Sumber: Anita Dwi Oktavianti (Dokumen Pribadi).



 “Look deep into nature, and then you will understand everything better (Lihatlah jauh ke alam, dan kemudian Anda akan memahami segalanya dengan lebih baik).” Albert Einstein


Sepenggal quote dari Albert Einstein mengajarkan kepada kita tentang sebuah konsep kehidupan yang mendalam. Seorang manusia yang mau mengamati dan memahami alam bisa mendapatkan sebuah pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik tentang kehidupan dan dunia. 


Begitu pula cerita dari desa wisata Bugisan ini, melalui tangan Kades Heru yang gigih dan mampu berpikir ke depan, berusaha menjadikan Desa Bugisan sebagai desa wisata ternyata membawa perubahan yang nyata dan berdampak bagi masyarakat luas, bahkan masyarakat dunia.


Desa wisata Bugisan tidak hanya didatangi wisatawan domestik tetapi juga dari mancanegara. Sebuah transformasi panjang yang membuahkan hasil gemilang. Dari sebuah desa biasa berubah menjadi desa menyala terang yang cahayanya sampai ke seluruh penjuru dunia. 


Gambar Piala Penghargaan Desa Bugisan. Sumber: Anita Dwi Oktavianti (Dokumen Pribadi).



Transformasi panjang yang tak mengenal lelah dan saling mendukung antara kepala desa dan masyarakatnya, bisa menjadi contoh baik yang bisa ditiru oleh daerah lainnya. Hingga berbagai prestasi diraih oleh desa wisata Bugisan. 


Berbagai ajang bergengsi telah diraih oleh desa wisata Bugisan, antara lain:

  • Penghargaan Apresiasi Dana Mandiri se-kabupaten Klaten juara pertama. 
  • Penghargaan Apresiasi Dana Mandiri Pemprov Jateng peringkat ketiga, pada tahun 2022.
  • Penghargaan Gelar Desa Wisata Provinsi Jawa Tengah juara ketiga kategori pengelolaan desa wisata. 
  • Penghargaan Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) pada tahun 2022, meraih juara harapan kedua kategori digital kreatif. 
  • Menjadi bagian Kampung Berseri Astra (KBA) Bugisan.
  • Juara 2 Kategori Diseminasi Sadar Wisata Tingkat Nasional tahun 2023.
  • Finalis Dewiku tahun 2024.
  • Dan masih banyak lagi penghargaan lainnya.


Sebuah jejak panjang perjalanan desa wisata Bugisan dalam mengadakan perubahan nyata dan kesuksesan yang bisa dinikmati oleh setiap warganya. Desa wisata Bugisan kini telah mensejajarkan diri dengan desa wisata lainnya. 


Desa Wisata Bugisan makin berani tampil percaya diri. Berbeda dengan desa wisata lainnya, Bugisan menawarkan pengalaman wisata budaya, sejarah, dan alam yang berpadu dengan selaras.


Tagline yang diusung Bugisan adalah “Desa Budaya dengan Kearifan Lokal” dengan ikon utamanya adalah Candi Plaosan. Candi yang megah ini merupakan simbol cinta dan toleransi nusantara. 


Di Bugisan menawarkan wisata yang berbeda dengan desa wisata lainnya, karena wisatawan bisa menikmati:

  • Paket wisata budaya: dengan pilihan sembilan paket wisata. Wisatawan bisa belajar membatik, membuat ecoprint, memahat batu, hingga melihat pertunjukan kesenian tradisional.
  • Wisata alam dan lingkungan: dengan menjelajahi desa bisa dengan bersepeda atau berjalan kaki di taman atau persawahan, menanam pohon, dan menyusuri desa dengan konsep slow tourism (konsep yang mengutamakan keberlanjutan, pengalaman yang mendalam, dan dengan pendekatan pariwisata massal).
  • Kuliner khas: menyuguhkan santapan seperti zaman Mataram kuno dan hidangan tradisional desa. 
  • Festival Candi Kembar: festival tahunan setiap bulan September yang menampilkan acara seni, tradisi, dan kearifan lokal. Selain itu juga ada event menarik lainnya, seperti expo UMKM setiap tiga bulan sekali dan sendratari Maharatu Pramodhawardani setiap bulan Juli.



Bugisan, Senyum Berseri yang Menginspirasi 

Kisah Bugisan melahirkan sebuah inspirasi besar. Perubahan tidak harus dibalut kemegahan karena dari sebuah aksi kecil akan bisa melahirkan hal besar. Aksi peduli dengan sampah melahirkan sebuah desa wisata yang tampil percaya diri di panggung dunia.


Kini Bugisan telah tersenyum berseri dengan menjadi desa binaan Kampung Berseri Astra, yang memberikan pelajaran kehidupan bahwa pembangunan sejati adalah membangun mental kemandirian, kreativitas, dan keberlanjutan. Dengan harapan, kerja keras, dan gotong royong mampu menyala terang menyinari seluruh penjuru negeri. 


Perubahan yang dilakukan Bugisan memberikan sebuah pelajaran hidup bahwa dalam berusaha mencapai tujuan jangan sampai menimbulkan kerusakan. Usaha Bugisan untuk mencapai desa wisata dilakukan tanpa merusak alam, akan tetapi justru alam dilindungi dan dijadikan destinasi wisata. 


Apa yang dilakukan Bugisan, selaras dengan sebuah pepatah Jawa, "Keno iwake ojo nganti buthek banyune." ( Arti secara bahasa adalah dapat ikannya jangan sampai mengotori airnya). Peribahasa ini mengandung filosofi yang mendalam bahwa saat berusaha dalam mencapai tujuan, sebaiknya dilakukan tanpa menimbulkan kerusakan. Inilah yang seyogyanya diperhatikan oleh kita semua.


Yuk kunjungi desa wisata Bugisan, info lebih lanjut bisa dilihat di instragram @desawisatabugisan. #APAxKBN2025








Sumber Referensi:

  • Wawancara dengan Kepala Desa Bugisan Bapak Heru Nugroho 
  • Rekta Deskarina, Rentan & Atiqah, Annisaa Nurul. (2020). Jurnal Pariwisata Dan Budaya . Volume 11 Nomor 1, Maret 2020. Potensi Kearifan Lokal Desa Bugisan Sebagai Upaya Pengembangan Daya Tarik Wisata Pendukung Kawasan Candi Plaosan. Diakses pada 30 September 2025. https://media.neliti.com/media/publications/489915-none-36011581.pdf

  • Saad, Belvana Fasya. (2024).Menikmati Keindahan Desa Wisata Bugisan Klaten Jawa Tengah. Diakses pada 30 September 2025. https://www.liputan6.com/amp/5685359/menikmati-keindahan-desa-wisata-bugisan-klaten-jawa-tengah
  • Prakoso, Taufik Sidik. (2022). Beda dari Lainnya! Bugisan Klaten Bikin Paket Wisata Pengelolaan Sampah. Diakses pada 30 September 2025. https://solopos.espos.id/beda-dari-lainnya-bugisan-klaten-bikin-paket-wisata-pengelolaan-sampah-1350336#:~:text=Desa%20Bugisan%2C%20Kecamatan%20Prambanan%20berkeinginan%20menjadi%20desa,menjadi%20desa%20wisata%20itu%20terganjal%20permasalahan%20sampah.
  • Media Sosial Desa Wisata Bugisan . https://www.instagram.com/desawisatabugisan?igsh=dnUyczA2dmc2c2sy
  • Chanel youtube Desa Dasun Lasem https://youtu.be/QaES_hGQTEk?feature=shared

  • Prokopim Klaten. (2022). Desa Bugisan Prambanan Masuk 50 Besar Desa Wisata Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022 - Kab. Klaten. Diakses pada 30 September 2025. https://share.google/7g7cZnS4R1BHzlpQQ

  • Library BPK. (2025). Intip Pengelolaan Sampah di Bugisan yang Mampu Olah 1,5 Ton Per Hari. Diakses pada 30 September 2025. jkpkbpkpp-dl-20250608135512.pdf https://share.google/T212BzdT5eKfNKPzN
  • Gradianto, Rheza Aditya. (2022). 32 Kata-Kata Motto Hidup dari Pepatah Jawa, Sarat Pesan dan Makna Mendalam. Diakses pada 1 Oktober 2025. Ragam Bola.com https://share.google/SbfdKvg7yLyfqKrtL
  • Ardyanto, Fakhriyan. (2021).50 Kata Bijak Tentang Alam dari Tokoh Dunia yang Menyentuh Hati. Diakses pada 30 September 2025. https://www.liputan6.com/hot/read/4285981/50-kata-bijak-tentang-alam-dari-tokoh-dunia-yang-menyentuh-hati?page=2








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peran Keluarga Menumbuhkan Anak Cerdas dalam Literasi Digital

Apa Itu Gaya Hidup?